me

me

Nama saya Dian Pujayanti. “Dian” berarti lampu, cahaya, atau juga bisa diartikan sebagai terang dan penerang. Sementara “Pujayanti” diambil dari potongan nama lengkap Ibu saya, Pujiati. Sisanya “Yanti” diambil dari kondisi perusahaan dan karier bapak yang tengah sukses-suksesnya kala saya lahir. Dari kata “JAYA” … jaya-jayanya. Dan menjadilah JAYAnTI. Begitudeh!!! Nyambung ga seh? Sambungin aja kali yeh.

Saya lahir di hari ketiga bulan Februari. Setelah saya lahir, Ibu dan Bapak mengontrak di deret kontrakan anak kali Ciliwung yang sebidang dengan Jl. Raya Bogor Km. 29 Jakarta Timur. Biasa disebut “LAPAN”. Penyebutan kata LAPAN pada wilayah ini, lantaran wilayah ini terletak di tanah sekitaran Lembaga Penelitian dan Antariksa Indonesia. Bila ingin melihat secara kasat mata, dimana kontrakan saya berada waktu itu memag agak sulit, karena terhalang oleh deretan toko-toko onderdil yang berderat di pesisir Jl. Raya Bogor.

Meski telah memiliki saya, sebagai anak pertama. Ibu yang bekerja pada pabrik tekstil bernama PT. PERCIL INDONESIA di Jl. Cibubur Raya tidak lantas mengundurkan diri. Pertimbangan memenuhi kebutuhan saya, sebagai bayi membuat Ibu bertahan di pabrik tekstil itu.

Saya kemudian dibesarkan oleh seorang wanita, sewaan ibu. Yah, biasa disebut pembantu. Pergantian pembantu juga sering dialamin Ibu. Entah berapa banyak pembantu yang mengasuh dan membesarkan saya. Saya tidak ingat semuanya.

Yang saya ingat hanya satu, pengasuh terakhir saya namanya Mba Sri. Dia kebetulan kepenakan dari Ibu saya yang asli Madiun. Mungkin, diterimanya Mba Sri di rumah saya, karena dia juga ingin mengadu nasib di Jakarta. Dua tiga pulau terlampaui lah.

Banyak kenangan dimana saya, Ibu dan Bapak mengontrak di kontrakan Cibubur Indah itu. Pernah satu kali, Ibu yang sedang repot memasak, mengabaikan saya, hingga saya ditemukan hampir jatuh ke kali. Karena kontrakan ibu bapak hanya berjarak 5 meter dari anak kali Ciliwung yang saya bilang di paragraph atas.

Syukur Ibu menyadari kecerobohannya. Coba! kalau tidak, mungkin saya sekarang sudah menjadi anak angkat dari keluarga Jerman dan menetap di Jerman  *ngareeep.com. Atau malah jadi penghuni rumah bordir, astagfirulloh *jangan ampe-jangan ampe. Hhjiojijiji.

Selang lima tahun, sejak lahirnya saya, Ibu dan Bapak berhasil membeli rumah di daerah Cimanggis. Sekarang detail alamatnya Jl. Akses UI Rt. 06 Rw 04. No. 66 Cimanggis Depok Jawa Barat 16951.

Rumahnya bagus, lebih besar dari kontrakan saya sebelumnya. Sebelah kiri, kanan, depan belakang penuh dengan pelataran kosong dan hutan-hutan kecil. Rumah saya sendiri berukuran 10 x 10 cm dan mempunyai sisa tanah 10 x 5 meter di sebelah kiri. Tanah sisa ini, kemudian dijadikan tempat berternak ayam, menanam pepaya, cabe, miara marmut, berternak bebek juga dan banyak lagi deh pokoknya *waktu itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan tahun berganti tahun, meningkatnya kebutuhan ekonomi akhirnya memaksa Ibu dan Bapak saya merubah lahan kosong itu menjadi sebuah rumah kontrakan, petak tiga. Satu petak pertama untuk ruang depan yang kalau si penghuni menata apik, petak pertama itu bisa dibagi menjadi ruang tamu dan ruang tidur. Petak dua, difungsikan sebagai dapur, dan terakhir khusus untuk bersemayamnya ribuan kubik air. Heheheh… susah banget ngomongnya. Maksudnya kamar mandi.

Tantangan dan berfikir adalah habit saya sedari kecil. Mungkin karena saya adalah anak pertama, saya menjadi anak yang sadar atas takdir saya, bahwa anak pertama penuh tanggung jawab. Menyadari keterbatasan ekonomi Ibu dan Bapak, membuat saya selalu menjadi anak yang mengawali segala sesuatu dengan memikirkan masak-masak betul. Terutama dalam hal “keinginan”: Ingin Sepatu, mikir dulu. Ingin tas, mikir juga. Ingin baju mikir lagi. Ingin buku mikir mikir terus. Setiap keinginan yang berakhir pada “pikir-pikir” dalam pertumbuhannya, membuat saya menjadi orang yang sangat sayang sekali dengan uang.

Karena semua keinginan tidak lantas terpenuhi, tetapi harus diawali dan diakhiri dengan menabung sekian waktu. Kalaupun saya tidak bisa menabung, biasanya saya memanfaatkan potongan-potongan kain sisa menjahit konsumen Ibu. Usai mengundurkan diri dari PT. PERCIL INDONESIA, Ibu kemudian membuka jasa jahit baju.

Begitulah saya terus melakukan hingga sebesar ini. Saya bukan orang yang mudah mengeluarkan uang sekedar membeli barang yang saya inginkan. Saya selalu berfikir berulang-ulang kali, untuk itu. Karena saya pikir, ada hal yang lebih berhak untuk saya tidak mengeluarkan uang itu. Seperti membeli buku, atau ditabung, untuk berjaga-jaga bila Ibu dan Bapak saya sakit.

Saat kuliah di Yogya, pribadi saya kurang lebih mengalami revolusi besar-besaran. Dari yang awalnya hanyalah perempuan biasa dengan pola pikir yang super biasa, menjadi perempuan liar, dengan otak liarnya pula. Saya berfikir ini adalah kemajuan untuk saya sebagai seorang perempuan dari keluarga biasa-biasa saja ataukah saya keluar dari pemikiran manusia biasa biasa saja yang seharusnya lurus sajalah!!!.

Saya bersyukur, karena Allah kasih saya anugerah ini. Atas ini saya bisa tahu apa itu Marxisme, Idealisme, Retorika dan sebagainya yang bagi orang awam itu dianggap otak kiri, atau garis kiri. Biar sajalah, yang pasti dari kuliah di Yogya aku tau banyak hal. Aku bisa berprofesi sebagai journalist pun atas langkah itu semua.

Semua manusia pasti berproses, itu adalah alami dan benar adanya “Kodrat”. Prosesnya cepat atau lambat, banyak faktor yang tentu mempengaruhinya. Ketika saya mendapat semua pelajaran demi pelajaran diatas, begitu banyak rasa syukur atas semua itu.

Saya coba mensyukuri semua itu. Karena menjadikan pribadi yang bener-bener tangguh di lingkungannya. Dengan tetap memegang “kelurusan” sebuah hidup, meski kadang bablas… Hahahah

Pada titik ini, ketika umur telah melewati seperempat abad ternyata saya seseorang OTODIDAK. Saya bisa mempelajari sendiri dan begitu cepat. Maaf bila saya terlihat seperti makhluk yang sombong. Buat saya, itu tidak lepas dari proses saya bertahun-tahun.

Saya akan menekuni apapun yang saya inginkan. Seperti halnya saya ingin menjadi seseorang pemegang keputusan, maka saya pun bermenit-menti menghabiskan waktu untuk menganalisa sebuah kasus, mencernanya, dan menemukan solusi berlipat-lipat. Atau, saya ingin menjadi seseorang paham web, saya habiskan waktu berdiskusi tentang itu kepada seseorang dan mencari banyak informasi dari internet. Saya begitu menikmati KESEMPURnAAn ini. Saya seperti memegang kendali dunia di tangan saya.  Saya ‘ternyata pun” mampu menjadi wartawan di perusahaan media nomor wahid di Indonesia. Saya ingin bisa ini, itu, saya lakukan. Kadang saya berucap, gilaaaaaaaaaaaaaaaa, gilaaaaaaaaaa sebegitukah saya saat ini. Heheheh… Hush… bukannya alhamdulillah.. Maaf kalau somse… Heheheh.

Pada titik ini pula, saya sudah mulai merancang hidup saya. Pada saat kapan saya harus mengakhiri profesi saya sebagai wartawan lapangan dan beralih menjadi seorang editor.

Ahaaa, ada satu rumus yang waktu itu terrangkum dari perenungan saya, bahwa “Untuk menciptakan jenjang karier, kamu tidak harus menetap pada perusahaan besar. Kamu bisa mewujudkan itu diluar. “. Iyah, diluar!!!

Begini caranya, targetkan saja berapa lama kamu habiskan waktu untuk menjadi buruh atau kuli. “Bila ambil dari kasus saya”. Berapa lama kamu berperan sebagai wartawan lapangan?. Setelah itu, bila dirasa dalam perusahaanmu tidak ada kemungkinan untuk menjadi Editor pada umurmu yang relatif muda, ambil resiko untuk keluar. Yaaa, tapi semua itu tentu saja kamu harus yakin. Jangan atas dasar nafsu. Semua perlu perhitungan. Disitulah kamu akan menjadi seorang manager dengan sendirinya yang lahir dari otak kamu sendiri.

Saat ini saya berkedudukan sebagai seorang Editor DuniaWedding.com, salah satu dari dua media terbitan Bella Donna Group. Situs ini bisa dibilang baru merambah dan mengevolusi dirinya. Emang sangat naif untuk mensukseskan situs ini dalam waktu relatif cepat, mengingat keinginan bos saya yang kadang tak konsisten dengan kewajiban dia sebagai seorang manajerial. Tapi sutralah, yang penting saya enjoy pada kerjaan saya sekarang ini. Saya ingin mensukseskan situs ini, dan memberi unjuk bahwa saya seseorang yang berada dibalik kesusksesan DuniaWedding.com kelak. Amien..

Iyah, pada titik ini saya begitu menyukai tantangan. Menemukan masalah dan akhirnya menjadi seseorang yang bisa memecahkannya dan membuat sukses.

Saya juga pernah menjadi Script Writer. Saya tau, saya tidak pengalaman di bidang itu, saya juga tidak paham tentang script writer secara detail. Alasan saya waktu itu menerima tidak lain, karena saya berfikir, menjadi script writer masih terkait dengan JURNALISME dan sekitarnya. Cara penulisan script writer sendiri ternyata tidak jauh berbeda ketika saya menulis berita pada Televisi. Menggunakan “/” yang artinya tanda koma, dan “//” berarti titik. Satu bocoran lagi, saya waktu itu sedang tidak ada pekerjaan, alias nganggur. Hehehehe

Dalam hal tertentu saya kadang tidak ingin ada rintangan ataupun peraturan, salah satu saat saya menulis. Mencurahkan semua aspirasi saya dalam sebuah kata yang terkait satu sama lain. Saya ingin bebas, dengan semua konsep yang berkembang di otak saya. Meski saya sadar, saya bekerja pada sebuah lembaga dimana mereka punya “pakem-pakem” dalam bidang penulisan.

Pada titik ini pula, saya tidak ingin menutup diri dalam bidang apapun. Dalam kesempatan apapun. Misalkan ada kesempatan sebagai fashion stylish, atau makeup stylish, atau fotographer, dan sebagainya saya ingin mencoba. Saya suka tantangan, dan saya suka belajar. Hihihi

Setelah membaca “TENTANG DIAN”, bukan berarti saya bukan orang yang tidak suka kritik. Saya begitu menyukai bila kamu-kamu memberi kritik ke saya di box bawah ini.

Tertanda

Dian Pujayanti

5 Tanggapan to “tEnTaNg DiAn”


  1. 4 jempol nichh dariku

  2. dijournalist Says:

    apanya yang mantap mas…heheheh

  3. M Afrazy Says:

    mantap ,…..slm kenal,…..kunjung balik,…makasih,………

  4. dijournalist Says:

    Hai juga Suzan… senang kenal kamu. Aku udah kunjungi blog kamu. Bagus tulisannya

  5. suzan Says:

    hai… salam kenal… blog walking nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s