Seorang kawan bertanya, “Mungkin ga kalau gue nikah nggak di gedung. Tapi di taman kota, Di?”. Hem… Tentu sah-sah saja, apa yang diharapkan seseorang tentang pernikahannya. Bahkan, bila ingin menikah di Menara Eiffel juga oke saja.

Selanjutnya, bagaimana cara merealisasikannya apalagi di area yang berada dibawah kendali birokrasi Indonesia. Akhirnya saya tetap mencari tau bagaimana mengadakan pernikahan di sana. Kebetulan sebagai tambahan pengalaman dan gambaran saya yang tengah bekerja di Wedding Organizer. Kali-kali temen saya itu, akhirnya menggunakan jasa saya. Googling sana sini, akhirnya saya dapatkan nomor pengurus Taman Menteng, 021 344 7464.

Seperti lagunya Ayu Ting-Ting, nomor tersebut ternyata salah. Lalu saya dikasih nomor lain, 021 5328452. Lagi-lagi salah alamat, si penerima bilang, “O… bukan disini Bu, saya kasih nomor depan ya?”, “Haaa, nomor depan?”, “Iyah, CS depan yang tau. Ini emang benar Dina Pertamanan dan Pemakaman tapi bukan disini bagiannya,”, “Okhg iya-iya”. “021 532 8454”

“Okelah,” dalam hati saya.

Akhirnya saya berkomunikasi dengan Pak Kamil, Bagian Taman Kota. Saya lalu berbicara tentang rencana teman saya yang akan menikah di Taman Menteng. Dari beliau juga saya cukup menakar betapa ribet atau mungkin bisa dibilang instan untuk menikah di sini.

Kata beliau, “Biasanya Dinas Pertamanan merekomendasikan area Rumah Kaca, Taman dekat Air Mancur sebagai area wedding. Untuk Rumah Kaca biaya sewanya Rp. 2,5 juta seharian, sementara Taman+Air mancur per 1000m2 dihargai Rp. 1 juta.”

Cukup murah sih untuk harga wedding venue di Jakarta. Jakarta booo, kota metropolitan. Masih ada sewa wedding venue 2,5 juta<

Tetapi belum selesai disitu. Awalnya kita harus buat surat izin yang dialamatkan ke

Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta
Jl. KS Tubun No. 1 Petamburan Jakarta Pusat

dan dikasih ke Bu Rena. Setelah surat masuk, kisaran seminggu atau lebih baru kita dapat kabar. Kata Pak Kamil, harus sering-sering konfirmasi dengan Bu Rena. Jadi bersabar yach, kalau ga dikabul-kabulin. Atau mungkin bisa pake cara instant. Hehehhe… :P

Setelah surat izin diberikan, buat tembusan ke 7 instasi pemerintah DKI lainnya. Yang saya ingat kepolisian, perhubungan dan lain-lain deh. Dan itu semua kita yang kirimkan.

Kalau merasa repot, Pak Kamil bersedia ko membantu. Katanya punya anak buah yang bisa bantu mengantar surat-surat tembusan itu. Tapi yaaaaaaaaaaaa gitu deh. Jangan lupa  Hiiii…😀

“Jadi, kalau ditotal-total kira-kira teman saya keluarin berapa uang tuh pak?”

“Yaaaa, nanti untuk orang kebersihan, keamanan, parkir, 500-500 lah”. Hiks…

“Mantabs gan,” gituh kata agan kaskus.

Saya pun coba menghitung-hitung berapa habisnya. Bisa dibilang, Rp 5 juta sendiri untuk atau mungkin lebih. Ditambah dengan perhitungan katering, souvenir, dekorasi dan sebagainya.

“Tapi gini mba,” lanjut Pak Kamil

“Karena ini adalah ruang publik dan dibawah Pemda DKI, ketika Pak Gubernur atau aparatnya membutuhkan untuk sebuah kegiatan, terpaksa kami mendahulukan mereka. Biasanya sebulan sebelum acara akan kami kabarkan. Mau ga mau harus patuh kalau begitu.” Waduh, kalau gini ribet juga. Mana ada dalam sebulan kita bisa dapat wedding venue pengganti.

Dari gambaran diatas, silahkan Anda ambil keputusan sendiri. Bisa saja informasi yang saya kasih kurang puas dan ada baiknya berkomunikasi langsung dengan Pak Kamil. Mungkin saja ada cara terbaik untuk Kamu yang memang “kekeh” banget pengen nikah disana. So, selamat menikah dan happy ending ever after.