Kalau sudah begini, seolah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Berbicara dengan klien, ngobrol sesama kawan kantor-padahal ia disamping saya. Cukup diam, memandangi layar monitor, seraya jari jemari menari diatas tuts keyboard. Menulis sesuatu. Sesuatu yang menggundah dan menggulana. Ya… ya… ya… ini jam bego. Begitu, kata kawan-kawan menamai jam kerja diatas pukul 16.00 WIB ini.

Energi dan kemampuan yang ada sudah terkuras sejak jam kerja dimulai, 09.00 WIB. Memasuki jam istirahat, digunakan untuk makan dan berinteraksi dengan kawan kantor. Usai itu, kembali bekerja, hingga jam kerja usai, 18.00WIB. Yang harus dilakukan, adalah mengembalikan tenaga seperti pagi tadi. Dengan cara membaca, nongkrong sejenak di depan mushola, membaca komik online, nonton film (diam-diam). Ataupun duduk termangu di depan pos satpam, sembari menerawang ke atas awan. Itu cara saya mengusir rasa lelah dan terkuras. Cara lain, biasanya saya nongkrong di toilet, sembari googling dengan hp Nokia E63-lungsuran suami.

Cara lain lagi? Yaa, mungkin bisa pergi keluar kantor, ke arah utara-tepatnya AlfaMidi. Disana banyak cemilan sehat dan beracun, es krim, pedagang kaki lima. Tapi yang terutama adalah, saya bisa menghirup udara segar. Udara yang tidak sama ketika saya duduk diam-bekerja diatas meja kerja dalam kubus berpintu dilengkapi air conditionair (AC). Dan disamping duduk atasan yang selalu mengintai gerak-gerik saya. Kalau ada yang tidak disuka, serta merta nyeletuk berbagai macam bahasa. Tentu saja, akan menjadi perkara dan hal yang sensitif ketika kondisi menempatkan di jam bego. Dan sebaliknya, berakhir canda tawa saat diluar jam bego.

Hahahahhah…

Manusia-manusia, tidak selalu bisa bersyukur sepanjang waktu. Ada saja, masanya dia sensitif, marah, ceria, gundah-gulana. Kalau kata teman saya, “Namanya juga manusia. Kalau ga marah, menangin, naik turun psikologinya itu namanya malaikat.” Dan saya bukan malaikat. Selain tidak pantas yaaaa, karena saya memang ditakdirkan sebagai manusia.

Jadi, semua kembali ke takdir. Kamu dibuat oleh Tuhan itu sebagai apa. Apakah meja, gelas, pohon, manusia, malaikat, setan atau iblis soleh.

Yang pasti, semua takdir, sempurnakanlah dengan ibadah yang royal sama pencipta kamu. Tanpa menimbang cukup atau lebih. Karena ada gula diakhir cerita. Seperti saat kamu, saya, dia berusaha sebagai istri solehah.

Hem, jadi sekilas nawala ini bermaksud menyampaikan apa? Akhg, hanya kegundahan sesaat di jam bego. Semoga mengembalikan saya pada kondisi tadi pagi.