Kamu tau, setiap manusia punya dua sisi yang berbeda. Mungkin lebih, bisa tiga, empat bahkan lima sisi berbeda. Entah karena dianugerahi pikir yang bisa dia atur-atur sesuka hati. Sehingga bisa membentuk image pada sebuah komunitas ataukah karena bagian dari proses.

Dulu, Nita adalah sosok yang merdeka, tomboy, maskulin, bebas dan mandiri melakukan apapun. Ia berbuat sesuka hati tanpa ada orang yang bisa mengontrolnya. Nita, bak kamus berjalan. Atas proses pembelajaraanya di kota X, Nita menjawab apapun pertanyaan orang-orang sekitar dengan tuntas, habis dan tanpa sedikit kemungkinan orang sekitar membantahnya. Nita, wanita yang sangat-sangat cerdas dan aktif. Nita dibanggakan oleh para dosennya sebagai mahasiswa berprestasi, dibanggakan bos nya atas karya-karya yang kerap ia telorkan.

Tapi atas itu pula, Nita mendapat pengakuan di lingkungannya sebagai pribadi yang tangguh dan tidak disepelekan orang-orang sekitar. Nita berperan sebagaimana ia dilahirkan menjadi anak pertama, yang bertanggung jawab atas adik-adiknya, dirinya sendiri serta lingkungannya. Ia banyak berbuat sesuatu yang bermanfaat, membanggakan setiap orang yang berada di sekelilingnya. Sampai-sampai tidak ada orang yang serius untuk mengajaknya menikah, karena kemerdekaanya Nita atas dirinya sendiri. Takut-takut setelah si lelaki menikahi Nita, Nita bertahan sebagai wanita karier, melupakan si suami apalagi anak-anaknya.

Itu dulu, dan sekarang.

Dia lemah, tidak bergairah, dan cenderung disepelakan banyak orang. Dia juga tidak pintar bergaul, dia juga tidak bisa berperan sebagai bunglon, apalagi pintar bergaul dengan sesama. Dia sangat-sangat menjaga sekali sikapnya, perkataanya, tingkah lakunya. Pikirnya terlalu panjang, hingga terkesan telmi. Di satu sisi, dia sukses pada tataran akhirat. Karena selalu menjaga sikapnya, berfikir sebelum berucap, diam dan tenang. Tapi, ternyata itupun tidak lantas membuat orang-orang disekitarnya menerima. Justru menyudutkannya, melecehkannya dan selalu mempermasalahkan setiap omongan yang terlontar dari mulut Nita. Nita hanya diam, ga berontak.

Dia diam, diam dan diam. Dia tidak tau harus apa dan berbuat apa? Nita yang cantik, Nita yang baik, Nita yang gaul, Nita yang bisa membawa dirinya, Nita yang cerdas sudah tiada. Kini, Nita hanya seorang wanita pendiam, katro, tidak mudah bergaul, dan selalu disudutkan.

Atau Nita mungkin perlu berganti komunitas, berganti teman, berganti kawan, berganti lawan, berganti atmosfer, berganti fokus, berganti sosialitas. Dimana ia bisa lebih hidup dan hidup. Mencintai hidup lebih dari kehidupan yang diberi Tuhan. Nita!!!