Aku bukan manusia biasa. Aku jago berpuisi, jago merayu wanita, jago berbicara, jago bersolek, jago mencari duit. Aku manusia serba bisa. Beberapa menyebut aku “perpustakaan berjalan”. Semua pertanyaan bisa aku jawab. Sekedar “ko bisa sih hujan?” sampai “emang ‘Aku’ itu pertanda egois? Benar itu kata freud?”.

Iyah, Aku manusia serba bisa. Aku bisa membohongi istriku, bahwa aku bekerja banting tulang di Jakarta untuk istriku tercinta; “Mas pamit ya dik. Doakan Mas sukses di Jakarta. Kirimin duit berlimpah tiap bulan. Titip anak kita ya dik”, kemudian berlakon sebagai pria ditinggal istri. Istri dituduh frigit dengan keberadaan Aku. Istri selalu menginjak-injak harga diri Aku. Istri tidak meng-anggap Aku karena pekerjaanku yang tidak layak.

Semua Aku lakukan untuk mengisi kekosongan aktivitas seks yang tidak Aku dapatkan saat Aku mengaku banting tulang di Jakarta. Dan apa? Berhasil. Dua, tiga, puluhan wanita berhasil aku bohongi. Aku jadikan tumbal untuk rasa birahiku yang hilang. Kalau sudah bosan, Aku tinggalkan. Mencari yang lain, yang lebih cantik. Yang lebih yahuud. Yang lebih bisa diajak selingkuh. Yang paham apa itu arti perselingkuhan. Yang cuek. Yang tidak memusingkan status. Yang mengatasnamakan seks sebagai kebutuhan tanpa ikatan. Yang bisa diajak ngeseks diam-diam. Yang bisa Aku peretin abis-abisan. Yang bisa melayani Aku setiap waktu. Yang juga bisa berkamuflase dengan istri Aku atau suaminya, bila dia bersuami.

Hahahahah… dunia milik Aku. Isi dan kenikmatan yang Ada.

Akgh, Aku nggak ingin berpikir tentang neraka dan surga. Tai kucing dengan surga dan neraka. Buat Aku yang ada adalah kepuasan pribadi. Aku bekerja, mendapat uang, aku nikmati. Itu adalah kepuasan Aku. Toh dengan keunggulan Aku sebagai makhluk yang punya kecerdasan, Aku diagung-agungkan oleh orang-orang sekeliling Aku. Dielu-elukan, “Hei, dia sudah datang. Kita Tanya saja sama dia. Dia pasti bisa menjawab permasalahan kita”. “Hei, dia cukup cerdas untuk memerangi hak kita yang teraniaya”.

Ya! Begitulah Aku.

Buat Aku, preketek dengan hati orang lain. Hati itu ada saatnya dibahagiakan, nah ada saatnya harus dilukai. Dan akulah orang yang berhak melukai hati orang-orang itu. Karena Aku pintar memainkan hati mereka. Dengan kepintaran Aku, dengan kecerdasan Aku, dengan keahlianku bersilat lidah, dengan kecongkakkan ku memainkan asa-asa mereka.

Lagipula, Aku memang pintar. Dan mereka adalah yang bodoh.

Rabu, 030810, 23.10’