Akhg, tatapannya itu loh, Ang. Buat aku merinding, mulai dari ujung indra perasaku sampai kuku kaki yang kata orang berbentuk bola bekel. Kenapa seh, Tuhan buat aku tak berkutik begini.

Baru kali ini Ang aku merasa gemetar. Dan, perlahan pasti, akan kaku seperti digigit sembilu. Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini Ang?.

Sepertinya tidak, akhg. Aku sama dengan hari-hari kemarin. Bersepatu kets, celana belel lepis dengan sedikit sobekan dipaha sebelah kiri dan kanan, kemeja kotak-kotak, daaaaan topi PKI.

Iyah, Ang topi PKI. Karena, yang aku ingat bentuk topi ini aku kenal saat menjadi bulan-bulanan pengkonsumsi film itu sejak kecil. Sayang, kamu tidak disampingku Ang. Andai kamu berdiri saat ini, disamping ataupun hadapanku, aku pasti tak berhenti berceloteh, meski raga ini merinding plus kaku.

Sejak kepergian kamu ke Menoreh sana, tak ada juga kabar darimu. Hanya angina-angin sejenak yang seolah berbicara bahwa kamu merindukan aku. Padahal, telah banyak cerita yang aku tumpuk dari hari ke hari untuk kamu.

Bukan untuk menunggu setiap solusi dari kamu. Hanya bercerita saja ko, tidak lebih. Karena aku tau, pikiranmu sebenarnya jauh lebih rumit ketimbang aku. Dan kamu bisa membuat semuanya seolah tidak ada apa-apa dimataku.

Ang…, Ang… jujur aku ga kuat menghadapi setiap lirikan lelaki itu. Yang terus saja menatap aku setelah memasuki kereta AC Ekonomi jurusan Tebet. Akgh… lelaki ini benar-benar membuat aku salah tingkah. Aku benar-benar tidak mampu berkutik. Aku mati kutu Ang.

Kenapa begitu lama sekali, kereta ini berhenti di tujuanku, Stasiun Tebet. Okhg, Tuhan… jangan lanjutkan lagi. Bukankah kamu tau, bahwa aku tidak begitu suka lelaki heteroseksual.

Yang suka dandan, rambut klimis, baju rapih, sepatu vantovel, dan semuanya berbau metropolis. Belum lagi melihat merk jamnya yang bertuliskan Dolce Gabana. Bajunya, okhg… baju itu!. Bukankah baju itu yang baru aku lihat kemarin saat aku mengunjungi pusat perbelanjaan di pusat kota Jakarta dan dibandrol Enam Juta Rupiah.

Dan lagi-lagi, tasnya dari Lui Vuiton. Rasanya aku tau, bahwa barang-barang yang dia gunakan itu semua, kalau dikalkulasi berjumlah tiga puluh juta. Fiuuuuuh, bah, darimana dia dapat uang sebanyak itu.

Tidak mungkin sekali bila dia hanya bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta, dengan gaji rata-rata empat sampai 5 juta dan membeli itu semua. Bisa saja dia melacur. Bukankah itu mungkin sekali, lantaran lelaki juga ingin tampil modis!.

Katakan saja, bila ia bekerja sebulan mendapat gaji lima juta, ditambah melayani tante-tante dimalam hari, dengan nilai transaksi 10 juta. Dimana volume jasanya itu tiga kali sebulan. Maka dalam sebulan kurang lebih dia bisa mengantongi 120 juta. Itu yang dia kantongi bersih, belum lagi compliment-compliment lainnya. Waaaaaah, benar-benar tajir abis lelaki itu. Wajar saja, kalau dia berpakaian seperti hari ini.

Tapi kenapa dia naik kereta yach, AC Ekonomi lagi. Inikan bisa dibilang kereta untuk karyawan menengah. Apa dia juga menjadikan penumpang kereta AC Ekonomi sebagai sasaran empuknya, lahan suburya. Bisa jadi, kan?. Andai saja aku bisa bertanya langsung ke dia, sudah aku investigasi habis-habisan itu orang. Meski terlebih dahulu aku harus menghilangkan rasa grogiku.

Tapi, kenapa mata itu, tidak henti-hentinya melirik terus. Okhg, sit, kenapa seh dengan mata itu. Buat aku naik pitam, saat ini. Sementara jarakku dengan dia kurang lebih satu meter ke arah kanan. Sejajar dengan kursi kereta yang aku duduki. Kedua tangannya berpegangan erat dengan handle kereta. Sementara mulutnya terus mengunyah permen karet, entah apa merknya. Aku tidak peduli.

Secara bergantian aku berganti tatapan dengan lelaki itu. Kala ia mencuri pandang, aku dengan sigap menengok ke dia, seperti seorang majikan menghardik anjing piarannya. Sebaliknya, ketika aku menoleh dan kemudian menetapkan pandanganku, ia berpaling dan menghadap kedepan.

Akhg syukurlah, kereta ku segera memasuki stasiun yang aku tuju. Aku beranjak dari tempat duduk, dan digantikan oleh ibu-ibu muda yang baru masuk dan tengah mengandung empat bulan.

“Akhirnya aku terlepas, bebas dari lelaki mengesalkan itu”. Bukannya aku tidak senang dipandangi seorang lelaki tampan dan asyik dipandang, apalagi begitu ia memasuki pintu, menjadi pusat perhatian lawan jenis sekitarnya, kecuali aku. Aku memang tidak suka. Lebih baik lelaki itu menyukaiku dari aku punya otak, ketimbang aku punya wajah. Yang kata orang seperti dian sastro.

Suara pedagang menjajakan jualannya “lupis seribu tiga, tiga lupis seribu. Buat sarapan bu, sarapan” menjadi penguat bahwa aku benar-benar sudah sampai tujuan.

Tanpa bilang permisi atau apapun kata maaf, langsung melesat keluar. Menghirup udara metropolitan. Sebenar-benarnya metropolitan. Menyaksikan deretan penjaja Koran di pagi hari. Dan terus berjalan menuju pintu keluar stasiun.

Baru saja aku ingin memperlihatkan karcis abodemen ke petugas, tiba-tiba. “Mba-mba, maaf kalau ganggu”.

“AAAAAAAAAAAAkhg tidak. Jangan dia lagi, jangan. Kenapa lelaki itu belum juga membebaskan aku dari pandangannya. Aku ga suka kamu, sangat tidak suka. Kamu itu bukan tipe aku. Harus aku bilang apa seh. Pergi kamu… “

“Maaf mba, ko bengong?”

“Gpp ko, ada apa yah,” sela aku yang memasang muka judes.

“Tapi mba jangan marah yah?. Please jangan marah”

“Iyah kenapa, ngomong ajah. Susah banget seh ngomong ajah. Kenapa,” tantang aku sembari tolak pinggang.

“Itu, digelang perak mba itu ada em….ada, yang nyantol”

“nyantol?”

“Iyah, nyantol. Seperti berbentuk em…. kondom gituh, “ bisik lelaki itu begitu dekat di kupingku.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…..”.