Akhg, dasar partai, tetep saja ‘ndablek’. Tidak peduli, presiden yang berbicara, “yang penting kami bisa mendapat jatah kursi Senayan paling besar.”

Gempa di Rabu sore, kemarin, benar-benar mengingatkan saya akan tragedi Situ Gintung, yang terjadi di awal Maret 2009. Ratusan hingga ribuan warga ‘bablas’ tertelan air bah, yang menjebol batas antara rumah penduduk dengan waduk air bervolume jutaan kubik.

Dan bukan hanya ribuan nyawa yang “bablas”, tanpa tau rimbanya hingga kini. Karena “bablas” juga menjangkiti seluruh partai yang waktu itu tengah bertarung mendapatkan kursi legislatif di Senayan.

Dua puluh dua jam setelah, Situ Gintung diumumkan sebagai Musibah Nasional, berbondong-bondong partai politik mendirikan tenda. Mematenkan diri sebagai “Posko Musibah Situ Gintung”

Adapun posko yang diklaim sebagai koordinator bantuan korban Situ Gintung itu, sekedar tenda berukuran 4 x 4 cm. Ada pula lima kali lipatnya. Lengkap dengan tangki air bersih, ruang mandi cuci kakus, ataupun makanan siap saji.

Padahal, Susilo Bambang Yudhoyono telah menunjuk Universitas Muhammadiyah sebagai koordinator utama bahan bantuan dari korban Situ Gintung.

Akhg, dasar partai, tetep saja ‘ndablek’. Tidak peduli, presiden yang berbicara, “yang penting kami bisa mendapat jatah kursi Senayan paling besar.”

“Namanya, juga usaha. Asalkan tidak melanggar hati nurani. Ayuk deh,” begitu salah satu kader politik yang pernah saya ajak bincang-bincang.

Alhasil, baru saja berjalan dua hari, pioner posko korban Situ Gintung berbendera kuning, itu mendapat puluhan kompatitor dari partai lainnya. Mulai dari partai Gurame, hingga partai yang ‘mpunya’ negara ini. Jadilah MEJIKUHIBINIU SITU GINTUNG.

….. to be continued