Ada-ada aja cara penjual menjajakan barang dagangannya, bukan dengan propaganda brosur, iklan di media, pamflet atau yang berbau mengeluarkan duit lah. Maklum, penjual yang satu ini hanya bermodal Rp. 2000 saja. Rp. 1000 untuk petugas keamanan stasiun, sisanya lagi pemalak.

Lebih dari itu, bisa jadi sehari keluarkan duit diatas Rp. 10.000.

Okhg iya kembali ke profil penjual yang saya coba angkat. Barang jualan si penjual yang satu ini sebenarnya bukan barang baru di masyarakat. Udah dikenal dari dulu, untuk melindungi seseorang dari VIRUS. Apalagi penggunaan dari barang ini kian mewabah sejak ada flu babi, flu ayam dan flu sejenis yang jorok dan berbulu.

Bentuknya persegi, warna biru ke putih-putihan begitu mendominasi seluruh corak barang ini, dikedua sisi terdapat tali memanjang yang diselipkan di kedua kuping kita. Betuuuuul, masker.

Kalau si penjual berteriak, “masker bu, masker pak, 5000 tiga. Murah bu ga usah tawar, ga usah pergi ke apotik”, itu sangat biasa. Nah penjual di stasiun Tebet punya cara berbeda. Pengucapannya bukan “dijual masker, 5000 tiga” tapi memisahkan dua suku kata dari “masker” hingga terdengar begitu mengocok perut. Coba kamu praktekkan.

 “MAAAS………………………….. KERRRRRRRRRRRRRRRRR”

“MAS…………………………….KERRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR”

“MAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAS….. KEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEER”

Bener kan! Lucu kan. Ga percaya datang ajah ke stasiun Tebet, diatas jam 6 malam. Situasi seperti itu, bener-bener begitu mengocok perut. Ya, meski diawal dan menjadi terbiasa untuk selanjutnya ada baiknya kalau kamu mau menilik. Selamat menikmati!!! Hihihi