Tiba-tiba saja Bos Amire, meneleponku.

“Yan, besok liputan Sherina yah!”

“Okeh Mas,” jawabku.

Baru saja, aku merenggang seluruh selangkanganku, sudah kembali dibombardir dengan cara-cara mengumpul pundi uang. Iyah, baru saja aku istirahat dari kerja panjang sebagai penimbang atas “idealisme vs realistis” sudah dipanggil kembali. Semata-mata untuk mengumpul uang, demi siapapun yang aku sayangi.

Yah, dilakoni saja. Begitu belahan jiwaku berkata. Karena tidak ada yang seberuntung kamu saat ini. Selain memiliki pekerjaan tetap sebagai scriptwriter, kamu pun masih sanggup berperan sebagai editor in chief di majalah “ecik-ecik”.

Mengapa kusebut “ecik-ecik”, karena kupikir, belum ada basic design ataupun kemasan yang layak untuk ditonjolkan dari majalah itu. Tak ada sesuatu yang greget yang bisa ditampilkan dari majalah ini.

Selain, keterbatasan ilmu yang dimiliki setiap personil yang terlibat didalamnya. Ya, perhitungan nominal tender yang terbilang kecil. Hingga, seperti itulah majalah ini dimunculkan. Karena, hingga malam tadi majalah itu telah memperoleh assigment dari yang punya proyek, belum ada satupun majalah terbit yang bisa membuat aku puas. Tak hanya lahir saja, termasuk bathin di dalamnya.

Dan tidak ingin balik ke beberapa tahun silam, dimana saya dikelilingi oleh orang-orang yang berkompeten menangani in house magazine, kiranya saya ingin sekali mendapatkan kualitas setajam hasil majalah-majalah jebolan Dsign79.

Dengan pemred yang handal, dan sekelompok desainer yang paham tentang tipografi dan punya branding dalam karyanya masing-masing. Seperti Podomoro magazine, BNI 46 magazine, dan semuanya yang didesain oleh Andunk Bayumurti.

Dan bukan menampik hasil desain yang lainnya, karena setelah saya telaah, saya cukup comfort dengan desainnya yang Lux dan elegan.

Tidak perlu hasil kolase dari beberapa objek, saya sangat puas dengan hasil Andunk.

Okhg iya, kembali ke panggilanku oleh Mas Amire. Esoknya atau 28 Agustus, aku langsung tancap gas menuju Mal Metropolitan, dimana Sherina bertengger didalamnya.

Tidak lebih banyak yang aku ketahui tentang Sherina, seperti kawan-kawan infotaiment.

Yang kuakui, aku sangat mengaguminya sebagai sosok yang idealis, berkeyakinan terhadap apa yang dia jalankan, dan tidak terpatri bahwa sering tampil di layar televisi membuatnya tenar.

Terpaut usia enam tahun dari aku, Sherina memang perempuan yang layak menjadi inspirasi siapapun. tidak terkecuali aku. Keyakinannya terhadap pilihan hidup membuatnya sebagai artis dengan ber-gain tinggi di dunia keartisan.

Elegan, Lux, dan tidak murahan. Keikutsertaanya menyumbang lirik di setiap albumnya, kian mengokohkan siapa dia dimata ku, dan juga publik. Seperti juga Nicholas Saputra, yang memilah-milah setiap tawaran yang disodorkan kepadanya, hingga tidak terkesan sebagai artis murahan. Begitulah aku menyejajarkan Sherina Munaf.

Makanya, ketika album terbarunya bertitle “GEMINI” keluar, aku tak heran kalaupun Sherina masih beratraksi dengan jati dirinya. Karena tidak ada yang pernah bisa selesai dengan jati diri…

Tapi pengemasannya dalam pencarian jati diri mampu ia tampilkan secara elegan. Mungkin bagi orang yang paham retorika hidup, banyak yang kan menilai Sherina masih mencari jati diri.

Akhg, begitulah Sherina… yang kemudian kita ketahui merubah penampilannya secara frontal. Dari berambut panjang menjadi pendek “ABIS”.