Memang, harus ada sebuah diskusi besar kepada semua sahabat Mbah Surip, karena hal yang tidak mungkin, ketika saya berharap bisa berbincang-bincang langsung dengan Mbah Surip. Karena, kami telah berbeda dunia.

13 Agustus 2009

Beberapa hari ini, aku terus menyimak tentang Mbah Surip. Nama ini mencuat, pasca lagu ‘tak gendong’ menjadi RBT terlaris dalam dua bulan terakhir. Menyimak sosoknya yang konon dikatakan, sangat bersahaja, rendah hati, dan tidak pernah menakar harus kepada siapa ia bergaul.

Tapi pandangan itu, tidak lantas membukakan mataku tentang Mbah Surip. Kiranya, aku masih terus mereka-reka, benarkah penilaian orang-orang tentan Mbah Surip itu. Karena yang tersaji di mata ku, hanyalah statement dari tv, tanpa interaksiku langsung dengan Mbah Surip sendiri. Bahkan, orang terdekatku, Jodhi Yudhono berani mengacungkan seribu jempol, bahwa benar adanya penilaian orang-orang itu tentang Mbah Surip.

Yang cukup mencengangkan, hingga Jodhi mengeluarkan buku biografi Mbah Surip, tak jua aku mempercayai perkataan orang tentang sosok bersahaja Mbah Surip.

Entah, dinding besar apa yang membuatku untuk tidak percaya. Berbagai pergulatan bathin terus mengeruak, seiring tayangan yang membabi buta tentan karakter Mbah Surip. Dan saya tetap tidak percaya.

Profesi baru saya, sebagai penulis naskah di program infotaiment pun tidak pula, meruntuhkan keegoisan saya tentang itu.

Memang, harus ada sebuah diskusi besar kepada semua sahabat Mbah Surip, karena hal yang tidak mungkin, ketika saya berharap bisa berbincang-bincang langsung dengan Mbah Surip. Karena, kami telah berbeda dunia.

Memang, harus ada sebuah ruang hati yang cukup peka untuk memahami ketulusan hati Mbah Surip. Berulang-ulang kali, saya coba menulis naskah tentang Mbah Surip. Berulang-ulang kali saya memperhatikan hasil wawancara para reporter saya dengan Mbah Surip, tak ada yang benar-benar bisa meruntuhkan kejamnya penilaian saya tentang Mbah Surip.

Bagaimana bisa, seorang lelaki yang tega meninggalkan anak istrinya, demi menjawab kehausan jiwa seninya, sekarang justru diagung-agungkan.

Bagaimana bisa, seseorang lelaki yang tidak menjalankan nafkah bathinnya, itu begitu dipuja-puja banyak orang, dan lantas mendapat milyaran rupiah. Meski, saya tidak menampik saya paham sisi musikalitasnya.

Tapi mengapa orang tidak melihat Mbah Surip, sebagai seorang suami yang tidak bertanggung jawab. Mengapa jiwa seni, begitu diagung-agungkan masyarakat Indonesia. Mengapa jiwa seni akhirnya menjadi jualan bagi mereka yang hanya mengharapkan keuntungan dari Mbah Surip itu.

Singkat kata, mengapa Mbah Surip bak dewa untuk mereka yang pada akhirnya toh, menjual sosoknya untuk mencari rating.

Padahal, ada tokoh yang selayaknya lebih dikibarkan, dan dibanggakan sekedar hanya Mbah Surip. Seperti WS Rendra.

Tapi, mengapa Mbah Surip justru mendapat porsi besar di seluruh majalah, tabloid, dan Koran Ibukota. Saya semakin heran, ketika ada orang yang kemudian membukukan Mbah Surip.