“kamu pernah dengar nggak, disaat kamu kehilangan semuanya, maka kamu gak akan kehilangan apa-apa lagi”, sela Ang menengahi kepenatan Tina, yang setengah sadar di hadapan laut biru pantai Marina Ancol. “ga” balas Tina dengan sebotol bir di tangan kirinya. “aku ngerti maksudmu, ikhlaskan lelaki itu kan” Tina kembali menambahi perkataanya.

Ang, yang sedari pagi menemani Tina, terus berupaya menyadarkan dengan ragam retorika merasa muak juga, bahwa si Tina tetap tidak sadar atas semua pemikiran-pemikiran irasionalnya itu. Namun, Ang sadar, sahabatnya yang satu ini, tidak pernah hidup berbahagia sejak kecil. Dan saat menemukan kebahagiaanya, justru kebahagian itu tak bisa menemani hingga akhir.

“kalo aku jadi kamu, aku gak akan ngotot. mmm.. aku punya pengalaman yang hampir sama” terang Ang, sembari mengusap kepala Tina yang tengah bersandar di pundaknya.

Ang menceritakan apa yang terjadi pada Tina, pernah ia hadapi dua bulan lalu. “Beberapa bulan lalu, cowokku pas balik ke barcelona bilang, “kamu tahu kan aku punya cewek di sini?”, “ini kita lagi balikan, perasaanmu gimana?”, “sakit hati Tin.. beneran. tapi apa coba solusinya? mau lari ke barcelona, narik2 dia minta balikan sama aku?. maunya sih begitu. lha tapi, kemampuanku sampai mana aku juga harus sadar, dong”.

“lalu” sela Tina.

“ya aku bilang sama dia, “apapun keputusan yang kamu ambil untuk kebaikan kehidupan mu, aku akan memaklumi itu. tapi kamu harus tahu, kalau kamu tanya apa mauku, ya aku maunya kamu ada di sini sama aku. 2 hal yang jalan di sini.. otak dan hati. dua hal tersebut selalu bertentangan. jadi kalau kamu serius sama dia, aku akan coba lupain kamu semampuku”, jawab Ang sekali lagi dengan mengusap kepala Tina yang tengah meneguk secangkir bir hangat.

“Kamu tau lelaki itu berkata apa” Tanya Ang ditujukan ke Tina. Menggelengkan kepalanya, Tina mensimbolkan keinginan mengetahui jawaban dengan membuka mulut dan mengucap “apa” meski senyap-senyap terdengar, karena hampir tak sadar ia.

“kasih waktu aku 1 bulan untuk tahu, sebenarnya mauku itu apa.. karena terus terang aja aku bingung”, dan aku bilang sama dia: “ambil waktu sebanyak yang kamu butuh. nanti kabari aku gimana perasaanmu setelah itu. aku gak akan gangguin kehidupanmu, aku jadi kekasihmu juga akan bilang kalo wanita pengganggu itu sungguh2 pelacur gak tahu malu”

“maaf Tin.. tapi itu bener2 kubilang sama dia, i dont want to be a bitch. nobody wants to be a bitch”.

Tina terhenyak bangun dari ketidaksadarannya. Terpikir olehnya, bukanlah keluarganya, atau perempuan yang menginginkan lelaki itu kembali, yang berhak menyandang bajingan.

Tapi justru lelaki yang telah diagung-agungkannya yang sangat bajingan, pengecut dan tidak bertanggung jawab. Memilih untuk kalah dan berhenti sebelum berada di garis depan. Tina kembali menoleh ke Ang, mengharapkan kasih sayangnya hingga mentari menyapa mereka berdua dari garis khatulistiwa samudra Hindia. Tina tak peduli bila orang sekitar menganggapnya berpacaran dengan Anggraini. “Toh yang mengerti kesedihanku hanya Anggraini”, batin Tina.

Tina, rupanya sudah sangat murka, Ia bahkan berfikir tidak akan peduli, bila ia pun harus mengobrak-abrik ketenangan keluarga lelakinya. Ia sangat tidak peduli. Dan memang tidak ada yang pernah peduli pada kebahagiannya.

“aku gak mau kasih kamu harapan lebih, Tin. pasrah aku Tin…” lanjut Anggraini, yang tanpa sadar meneteskan air matanya tanpa diketahui Tina yang tengah mabuk.

“gak bisa maksain Tin. se nyata-nyatanya yang kurasain, kalau keputusan dia beda, aku mau apa? percuma dipertahanin. nanti malah bikin emosi dan tengkar terus tiap hari. habisin energy. kamu masih di situ Tin?”

Seketika Tina, membalas “masih”, Tina tidak ingin mengecewakan Anggraini, yang sedari pagi menemaninya dan ditemukan orang yang berada disampingnya dan tidak mempedulikan semua cerita Anggraini.

Anggraini pun melanjutkan ceritanya. Tanganya kembali mengambil sebatang rokok merk a mild jenis menthol. “yang yakin Tin, semua pasti ada jalan keluarnya. rejeki, jodoh, ada yang atur, tooh”. “kamu orang kedua yang bilang demikian” balas Tina. “itu memang bikin diskusi jadi berhenti” balas Anggraini kembali.

“jawaban paling gak menyenangkan kok. cuma mau ngasih tahu aja, sakit hati itu akan ada terus selama kita hidup. percuma kamu menolak. Pasti datang terus, berkala. Bergantian dengan perasaan bahagia, sedih, kecewa, menyenangkan. Itu bergantian. Itu sudah hukumnya Tin”.

Mencoba berdiri diantara kedua kakinya yang hampir rapuh, Tina merambah, berpegangan pada sebongkah kayu, beranjak naik, dan kemudian merapat ke tiang lampu.

Ia berpegangan. Mengumpulkan ia punya tenaga, dan berteriak.. “Lelaki itu mencintaiku, Ang. Tapi ia memilih kembali ke buah hatinya, permintaan keluarganya. Aku benci dia, dia pengecut, bajingan, dia meninggalkan aku”.

“Kamu harus sadar Tina. gak ada teori seperti itu. itu bullshit. kamu harus sadar itu Tina. itu udah rumus matematika”

“Oke, jadi dia masih cinta dengan mantan istrinya?” Tanya Tina. Matanya semakin bengkak dari menit ke menit, menahan sesak karena ulah lelaki yang dimaksudnya.

“kalau cowok suka kamu, dia pasti balik sama kamu. entah sekarang dia cinta mantan istrinya, anaknya, atau dirinya sendiri. tapi yang jelas, kamu uda gak ada di urutan 3 ke atas. Ayu Tina!! wake up!!!” balas Anggraini mementahkan semua kekesalannya karena Tina tak kunjung sadar. Sekuat tenaga Anggraini menggoyang-goyangkan tubuh Tina yang hampir lunglai tidak berdaya. Anggraini, sadar seberapapun panjang ia bercerita, Tina tetap tidak akan berhenti mengumpat dan berkhayal negative.

“sebabnya gini Anggraini, lelaki itu telah melakukan banyak kesalahan hingga mengecewakan orang banyak. Termasuk keluarganya. dan apakah dia ingin membuat lagi bentuk kekecewaan lainnya dengan menikah denganku…?,”

“Ang tolong aku Ang, aku benar-benar tidak kuat Ang, menanggung ini semua”

“Ang, aku bukan perempuan yang kuat Ang, aku lemah. Aku kalah”

“Tina, kamu harus sadar. itu cuma alasan lelaki itu saja, Tina. emang kamu lonte apa sampe keluarganya benci sama kamu???. edan poh???. Makanya. kamu tuh yang lebih hargain diri kamu sendiri dong. gak akan kamu sukses bercinta kalo kamu gak mencintai diri kamu sendiri. Lelaki itu hanya takut namanya tercoreng lagi, alias egois.”

Anggraini kembali memanas dengan ketidakrasionalan Tina. Berulang kali Tina berfikir irasional. Ia bahkan menampikkan, apakah benar Tina seorang peneliti, seperti yang dibanggakan BJ Habibie, salah satu orang berpengaruh di Indonesia versi Metro 10. bila permasalahan hati saja, ia tidak mampu menuntaskannya.

”klo kamu itu orangnya rampok, pencuri, pengedar obat2 terlarang. maklum aku klo keluarga lelaki itu itu benci sama kamu. wong kamu itu lho, doyan meneliti dan seorang peneliti ulung untuk bangsamu ini”

“aku bisa Anggraini ke rumahnya di kampung sana”, unggah Tina. “Kopet” bentak Anggraini. “gebleg, ngapain. ato gini aja, benarkan kamu kesana… mau po, dibilang ngrusak rumah tangga orang? … terserah lah Tin,” telak Anggraini, membicarakan masalah Tina.

Sebelum meninggalkan Tina sendirian di tengah pasir pantai Parangtritis malam itu, Anggraini kembali memperingati Tina dan membisikkannya sesuatu. “sorry to say.. Lelaki itu gak secinta itu sama kamu. dan kamu gak secinta itu sama dirimu sendiri”.

Dan Tina pun kembali terlelap di tengah deburan ombak pantai Parangtritis malam itu. Sementara Anggraini, pergi. Meninggalkan Tina seorang diri. Menunggu Tina yang akan tersadar bila Mentari menyapa dari dalam mobil avanza bernomor D 9208 E. Dalam tidurnya, Anggraini berdoa ribuan kali, agar kawannya yang tengah sekarat itu dikembalikan seperti dulu. Saat melakukan semua penelitian atas dasar NKRI. Anggraini benar-benar rindu saat itu. Tina, sadar tin!!! Wake up!!!, doa Anggraini.

Depok, 5 Maret 2009

01.23 WIB

* * *