9 Februari 2007:

“Non, aku mencintai mu lebih dari perempuan mana pun di dunia ini. Termasuk mantan istriku.”

“Bahkan, bila aku boleh memilih, Radiyaksa Dault lahir dari rahim mu. Karena Kiyanaran sangat tidak menghormatiku, layaknya suami,” ucap Jinggilan di bawah rembulan yang tengah penuh menguning.

“Hidup ku, ku yakin teruntuk kamu. Dan Radiyaksa. Nafas ku untuk menyanggamu sebagai surga dunia. Bukan itu saja, Non. Jiwa ini, rela ku matikan, bila aku mengkhianatimu kelak,” ucap Jinggilan sekali lagi di bawah rembulan yang semakin menguning warnanya.

“Ku tambatkan hati ku beberapa bulan ini kepada Sang Yang Widhi di Pura Kencana Wungu, semata mata mematrikan diri, bahwa kamu adalah perempuan ku,” lagi lagi Jinggilan berucap di bawah rembulan yang kadang kadang sembunyi di balik kelambu awan malam Kamis itu.

“Jangan lah, kamu sangsikan hasrat hati ku ini, Non. Aku jujur mencintai mu tanpa sarat. Aku jujur menempatkan mu lebih tinggi dari mantan istriku. Terimalah aku, Non. Maka akan ku gelar semua kehormatan ku di bawah kaki mu. Dengan begitu kau bebas menginjak injak ku,” lagi… lagi… dan lagi Jinggilan cuap cuap di bawah rembulan yang sekarang menampakkan diri.

“Iyah, begitulah aku. Sampai ikhlas ku tempatkan diri ini lebih rendah dari kelingking, ibu jari kaki mu yang putih meng-ngapur itu.”

“Iya, Ka Jinggilan. Mari kita jalani ini demi Dewa Wisnhu dan Brahma yang memberikan kita jagad ini,” terimaku.

* * *

9 Februari 2007:

Tidak semudah yang dibayangkan Jinggilan, ketika hatinya kembali terpaut pada sosok wanita yang dikenalnya hanya melalalui satu sapaan; “Permisi, mas!. Bisa saya pinjam pulpennya?”.

Karena Jing, begitu panggilannya, menyadari betul siapa dirinya sekarang. Duda beranak satu, dan dicerai karena tidak bisa memenuhi nafkah lahir. Karena dia, seperti terpenjara di dalamnya tanah Sumatera. Yang mengkungkung keras setiap ide-idenya tentang pancasila, kemufakatan, kemajuan teknologi.

Karena Jing, hanya merasa bisa hidup di tanah Jawa. Dimana semua jaringan ia memperoleh uang, bisa didapatkan dengan mudah.

Karen Jing sadar, ia bukan lagi seorang bujangan.

Dan seseorang yang bukan bujangan, bagi masyarakat awam adalah kasta paling rendah. Lebih rendah dari Sudra.

Namun, entah kekuatan apa yang mendorongnya untuk menyatakan, kemaluan hatinya malam itu.

Beriring rasa hormat kepada wanita yang dianggapnya sudah mengembalikan semangatnya dulu yang pernah layu, Jing memberanikan diri melangkah. Menghadap sang wanita, yang tengah duduk di teras depan kantor Cempaka.

”Lagi apa, Non?”

“Ekhg, Mas Jing. Akhg tidak sedang apa-apa. Saya hanya menunggu pangeran saya saja.”

Bara itu, begitu menghujam relung hati Jing. Jing tidak pernah memperhitungkan, bahwa Non tidak lagi single. Ia memiliki lelaki yang sudah lama mengisi relung hati, Non.

“Okhg, maaf buat Mas Jing salah sangka. Pangeran yang saya maksud, masih bayangan. Saya hanya merasakan bahwa malam ini, akan ada lelaki yang datang ke saya, dan ungkapkan ia punya isi hati”.

”Kha! Telaah apa yang dimiliki Non, hingga ia tahu, apa yang ingin kusampaikan?,” ucapnya dalam benak.

”Akgh, sudahlah. Tidak usah kupermasalahkan. Aku harus sampaikan malam ini. Tidak peduli, hujan deras bakal menyusul malam ini. Tidak peduli, langit runtuh dari arsy nya. Tidak peduli, ribuan gagak mematok punggungnya,” tegung Jing kembali dalam hati.

“Non, aku mencintai mu lebih dari perempuan mana pun di dunia ini. Termasuk mantan istriku.”

“Bahkan, bila aku boleh memilih, Radiyaksa Dault lahir dari rahim mu. Karena Kiyanaran sangat tidak menghormatiku, layaknya suami,” ucap Jinggilan di bawah rembulan yang tengah penuh menguning.

“Hidup ku, ku yakin teruntuk kamu. Dan Radiyaksa. Nafas ku untuk menyanggamu sebagai surga dunia. Bukan itu saja, Non. Jiwa ini, rela ku matikan, bila aku mengkhianatimu kelak,” ucap Jinggilan sekali lagi di bawah rembulan yang semakin menguning warnanya.

“Ku tambatkan hati ku beberapa bulan ini kepada Sang Yang Widhi di Pura Kencana Wungu, semata mata mematrikan diri, bahwa kamu adalah perempuan ku,” lagi lagi Jinggilan berucap di bawah rembulan yang kadang kadang sembunyi di balik kelambu awan malam Kamis itu.

“Jangan lah, kamu sangsikan hasrat hati ku ini, Non. Aku jujur mencintai mu tanpa sarat. Aku jujur menempatkan mu lebih tinggi dari mantan istriku. Terimalah aku, Non. Maka akan ku gelar semua kehormatan ku di bawah kaki mu. Dengan begitu kau bebas menginjak injak ku,” lagi… lagi… dan lagi Jinggilan cuap cuap di bawah rembulan yang sekarang menampakkan diri.

“Iyah, begitulah aku. Sampai ikhlas ku tempatkan diri ini lebih rendah dari kelingking, ibu jari kaki mu yang putih meng-ngapur itu.”

“Iya, Ka Jinggilan. Mari kita jalani ini demi Dewa Wisnhu dan Brahma yang memberikan kita jagad ini,” terimaku.

***

“Non, aku mencintai mu lebih dari perempuan mana pun di dunia ini. Termasuk mantan istriku.”

“Bahkan, bila aku boleh memilih, Radiyaksa Dault lahir dari rahim mu. Karena Kiyanaran sangat tidak menghormatiku, layaknya suami,” ucap Jinggilan di bawah rembulan yang tengah penuh menguning.

“Hidup ku, ku yakin teruntuk kamu. Dan Radiyaksa. Nafas ku untuk menyanggamu sebagai surga dunia. Bukan itu saja, Non. Jiwa ini, rela ku matikan, bila aku mengkhianatimu kelak,” ucap Jinggilan sekali lagi di bawah rembulan yang semakin menguning warnanya.

“Ku tambatkan hati ku beberapa bulan ini kepada Sang Yang Widhi di Pura Kencana Wungu, semata mata mematrikan diri, bahwa kamu adalah perempuan ku,” lagi lagi Jinggilan berucap di bawah rembulan yang kadang kadang sembunyi di balik kelambu awan malam Kamis itu.

“Jangan lah, kamu sangsikan hasrat hati ku ini, Non. Aku jujur mencintai mu tanpa sarat. Aku jujur menempatkan mu lebih tinggi dari mantan istriku. Terimalah aku, Non. Maka akan ku gelar semua kehormatan ku di bawah kaki mu. Dengan begitu kau bebas menginjak injak ku,” lagi… lagi… dan lagi Jinggilan cuap cuap di bawah rembulan yang sekarang menampakkan diri.

“Iyah, begitulah aku. Sampai ikhlas ku tempatkan diri ini lebih rendah dari kelingking, ibu jari kaki mu yang putih meng-ngapur itu.”

“Iya, Ka Jinggilan. Mari kita jalani ini demi Dewa Wisnhu dan Brahma yang memberikan kita jagad ini,” terimaku.

1 Juni 2009:

06.21: “Maksud mu apa, Ka Jinggilan. Membohongi ku, dan mengaku sebagai mantan suami orang?”.

06.55: “Bajingan kamu, pah. Apa salah ku, sampai kamu berselingkuh dengan perempuan ini. Mamah nggak terima,”.

Bukan lagi kata-kata kasar mencuat dari bibir perempuan itu. Perempuan yang nyata masih berstatus istri syah dan tidak ada sama kata cerai, bahkan surat cerai. Seperti yang dikirimnya kepada Non, setahun lalu.

Tamparan perempuan itu, begitu syahdu menyisir pipi Jing. “Praaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak”.

“Sekarang pilih Mamah atau perempuan ini. Ingat pah, Radiyaksa membutuhkan kita.”

07.12: “Non pamit, Ka Jinggilan dan Ka Kiyanaran!”