Genap delapan hari saya BERKANTOR di Cempaka Putih Tengah No 20. Em… maksud saya, BEKERJA di Cempaka Putih Tengah No 20. Dan genap delapan hari pula, saya coba merintis kembali, apa yang saya dulu juluki ‘JALAN LIMA TRAGEDI’. Jalan yang mengingatkan saya, akan perjuangan seorang lelaki seperempat abad lebih untuk mendapatkan perempuan…

Sayang, jalan itu selalu terasa sepi untuk saya. mungkin lantaran pulang kerjaku lebih dari 12 tengah malam. dan jalan itu terasa benar benar sepi untuk aku. Terkadang, aku menyebut namanya dan memohon perlindungan dari kriminalitas-kriminalitas yang mungkin bakal menghampiri. Dan terkadang, aku sangat menikmatinya. Sepi, sendiri, dan terus melaju diatas kecepatan 80 km/jam. Dalam tempo  setengah jam aku lekas melihat bau harum keringat bunda, dan kerinduan bapak yang sangat mengkhawatirkan anak gadisnya ini. Ini sangat jauh berbeda, ketika siang hari, dimana waktu tempuh lebih dari satu jam.

Karena itu pula, mungkin. Aku tidak pernah ingin untuk tidur di kantor baru ini. Padahal, sebelumnya ku sangat haus dan keranjingan untuk tidur di kantor. Sekedar menunjukkan totalitas. DI Panjaitan, itulah nama jalan yang saya pernah punya cerita. Kadang saya ingin berhenti di atas fly over jatinegara, sekedar melihat awan yang akhir akhir ini purnama penuh. Tapi raga ini sulit banget untuk dirajuk. Inginnya hanyalah tidur disamping pelukan Ibu, bercerita banyak hal, tentang kegundahanku akhir akhir ini. Membagi dukaku yang kerap membengkakkan hati.

Perjalananku pun tiba di Kramat Jati, tempat ini menjadi pelipur lara setiap sela DI Panjaitan. Bau anyir terasa di saat tumpukan ikan tuna, teripang, hiu berjejer di tepi kiri aku lewati. Kumpulan suami istri, asyik menjajakan jualannya. Tawar menawar dengan pembeli. Sementara angkot 06, merasa nyaman untuk singgah disitu. Menghiraukan, bahwa ada perempuan yang sangat merindukan belaian seseorang ibu..

Aku benar benar rindu Ibuku, malam ini…