Sejak, TV One hadir di Indonesia… Saya perhatikan, sering sekali beberapa presenter (news caster) menyebut kata ‘begitu’. Padahal bila dikaitkan dengan kata sebelum dan sesudahnya, ya tidak nyambung. Sebagai contoh, mba Tina Talisa, sering sekali berkata: Sekarang sudah hadir dihadapan kita, ‘BEGITU”, saudara Arya Bima, analisis politik. Namun, perbincangan kita lanjutkan setelahnya, ‘BEGITU’ tentang carut marut kerja KPU. Selanjutnya, kata itu kerap dipergunakan oleh SELURUH presenter di TV One. BEGITU… BEGITU… dan BEGITU.

Dan bila dirunut-dengan catatan; kerap menonton berita di televisi, kata BEGITU sebenarnya sudah sering diperdengungkan oleh presenter METRO TV. Yang saya ingat adalah mba Nazwa Sihab, kemudian diikuti oleh Rahma Sarita. Selanjutnya, karena si Rahma Sarita pindah ke TV ONE, mungkin gaya ini dijadikan identitas mereka. Tapi aneh saja, saya pikir. Bahwa bung Karni Ilyas, membiarkan kata BEGITU kerap diperdengungkan. Lah Bang Karni ini kan paham ilmu jurnalistik. Ups, maaf bang, saya jadi mengkritik abang neh. Habis saya, kelewat aneh dan terus bertanya ketika kata BEGITU, BEGITU familiar, dan BEGITU dibiarkan, dan BEGITU dibudayakan di TV sampean.

Gimana neh Bung Karni.

Tapi bila diperhatikan, setelah TV ONE meng-hiject si Rahma Sarita dari METRO TV, penggunaan kata BEGITU, sepertinya langsung diilangkan. Mungkin METRO TV kerasa, bila ciri khasnya teralihkan. Alih-alih, saat semua stasiun televisi menayangkan program Pemilu, tidak satupun kata BEGITU muncul dari bibir Nazwa Sihab.

Hem, lalu apakah kata BEGITU memang ada dalam dialektika jurnalistik atau memang terkait dengan bertutur kata sang presenter televisi. Artinya bahwa setiap presenter memiliki kekhasannya sendiri, namun apakah harus dengan kata yang saya pikir tidak nyambung itu. Dan bahkan malah cenderung diseragamkan kepada sesama presenter televisi.

Mari kita pertanyakan ini?!?!?