HIDUP adalah PERJUANGAN

HIDUP adalah PERJUANGAN

“Kamu bisa menulis gaya K*M*P*S?,” tanya Nova, kawanku asal Malang. Dan ku jawab ”Bisa, iya. Di koran ini aku dapatkan pemilahan kata yang tidak pernah berulang. Sangat jeli disetiap pemilihan kata dan idiom-idiomnya.”. Hem… sudah jauh hari tawaran untuk menjalani profesi di media akbar sekelas KOM***, **TV, **TRO** atau media-media lainnya, sekaliber Raja Tarumanegara ataupun Jaya Wijaya. Bukan itu akhirnya. Ketidakpercayaan diri akan kemampuan menulis dan sistem nepotisme yang masih belum terjawab langsung dari dalam hati dan otak yang terus berjalan ini. Nurani jurnalisme manapun mungkin tak sudi mendapatkan jaringan nepotisme, tanpa ia tau kredibilitas jurnalismenya. Tapi hanya karena keterkaitan hubungan. ini yang tengah terjadi, saat ditawari untuk memasuki media manapun di Indonesia, tinggal bilang Saja dan besok pun bisa langsung bekerja. Hem… nikmatnya hidup demikian, tiada tantangan dan penawaran kursi empuk sesaat.

Dalam ranah kebutuhan ekonomi dimana uang menjadi raja dari semua itu, alasan idealis makbum berada di urutan setelah itu. Sungguh malang, bila ini terjadi untuk seseorang yang menjalaninya (secara kasat mata). Tapi, tanyakan kepada mereka yang mengunggulkan alasan ekonomi ketimbang idealis. Bisa dipertimbangkan, bila kita menyanggah status anak pertama, orang tua berpendapatan tidak menentu, apakah kita kekeh untuk meneruskan idealisme Kita sementara tawaran pendapatan pekerjaan menjanjikan untuk menyuapi adik-adik Kita. Ini perjuangan hidup, demikan tema lagu Dewa19 dulu (Dewa dulu, menurut Saya lebih berbobot dan punya harga).

Hidup adalah perjuangan Kita hanya Manusia Tak berdaya menahan laju sang Raja Manusia (Bangganya Saya menjadi penggemar Dewa19 dulu)

”Kalau sudah begini (Kata Efendi Gozali), Siapa yang patut disalahkan?” Hem… Negara atau pribadi-pribadi yang tidak mampu membangun karakternya. Saya pikir, sudahilah berpangku tangan kepada Negara ini. Toh pada umurnya yang layak disebut Kakek, indera penglihatan Kita belum mampu merangkai apa peran Negara kepada perkembangan Kita, setidaknya yang bisa mencerminkan masyarakat Indonesia. Yang ada adalah kemampuan, semangat serta kerja keras Kita untuk membentuk Kita sendiri, memberikan terbaik bagi orang tua (setidaknya itu dulu) barulah berfikir berkarya untuk negara. Atau mungkin Kita berjalan bersamaan. Semua memang perlu pengorbanan dan kerja keras, dan di umurku sekarang beranjak seperempat abad dan seterusnya Saya yakin Saya mampu. Kuncinya hanya cinta dan pantang menyerah. Mencintai pekerjaan serta profesi yang Kita pilih, sesuai dengan hati dan tentunya menyerah sangat pantang untuk diterapkan.