Satu setengah hari sudah Saya menelaah tentang hari Akhir. Seorang kawan, yang telah membaca buku berjudul ”2015 Imam Mahdi Datang”, memberi Saya wacana tentang kehidupan hari akhir. Tentang kemunculan Imam Mahdi, Dajjal, Yajuj & Majuj, kepunahan dinasti manusia, benturan meteor QQ, dengan perhitungan hasil intrepetasi bangsa Yahudi. Dalam buku itu yang kemudian di komunikasikan ke Saya, dengan gamblang terjadi pengkalkulasian kejadian-kejadian di muka bumi berdasarkan konversi huruf-huruf dalam alquran ke angka-angka. Seperti runtuhnya kerajaan Sadam Hussein tahun 2008 yang diambil dari salah satu surat di Al-Quran, dan segala prediksi kejadian akan datang. Seolah memberikan kepada Saya bahwa hidup kian hari dijalani semakin menjadi tanda tanya beser, ketika Saya mengetahui dengan pasti tanda-tanda zaman menuju akhirnya. Bahkan, dalam buku ”Telaah petang hari, Kehidupan paska Kiamat”, dinyatakan ”Usia bumi Ini tinggal dua jari Nabi, yakni telunjuk dan jari tengah”. Ini disampaikannya menjelang kepeninggalannya dari bumi.

Pengejewantahan kemudian beralih ke Alexander Agung atau sebagian kaum muslim mengenalnya sebagai Muhammad Zulkarnaen, putra Raja Cyrus XI yang konon memasung kelompok Yazuj & Majuj diantara dua bukit. Inipun Saya masih terus mencari, akan kebenaran dan mencoba untuk menyakininya apalagi mempercayainya.

Pengemukaan demi pengemukaan sebenarnya telah jauh Saya peroleh saat kedua orang tua Saya menyerahkan Saya kepada guru mengaji. Meski dasar, itu menjadi pegangan Saya untuk terus mencari tanya. Dan entah karena kenapa meski ’keilmuan’ ini telah tertanam lama, bergitu pada hari itu dibahas kembali menjadi cambuk untuk kembali menelaah dan menyacahnya satu demi satu.

Dan selanjutnya, satu setengah hari sudah lagi, Saya kembali menapaki bumi dan memandang jauh ke atas langit hanya tersedia guratan-guratan lembut dan kasar hasil cipta Sang Yang Widhi. Lalu dimana, Saya harus terus menjalankan poros kaki ini, ketika keyakin makin diasah untuk sebuah hal yang pasti. Seperti tak ada ungkapan lagi akan sebuah cinta untuk seseorang, ataupun untuk orang lain, selain siapa yang nyata di hadapan Saya. Terus mencari jawab ditengah kelemahan Saya sebagai perempuan. Dimana, sedang tidak memiiki cahaya untuk berdiskusi tentang ’ini’ kepadanya. Bersamaan dengan ini pun, keberadaan Saya di ranah niang hijau ini semakin inkonsistensi. Jauh dari tujuan, dan awal yang jelas.

Sebuah perjalanan akhir dalam satu setengah hari ini belum pula Saya dapatkan. Yang berkesimpulan, apakah disekitar Saya ini nyata. Buku, Komputer, Televisi, Pinsil, Kamera dan segala ’tetek-bengek’ duniawi ini. Lalu dimana Saya harus menjelaskan eksistensi Saya di dunia ini. Saat semua ini akan hancur pada akhirnya. Allah seolah seperti anak-anak yang sedang bermain rumah-rumahan, untuk kemudian dihancurkan.

Pergulatan tentang satu dan lain hal, memang selayaknya terus terjadi. Tapi, bagaimana jika itu pun stag dijalan dan tidak ada yang mampu menyeimbangkannya.