Head to head, judulnya

Hem… langit yang hari ini biasanya tak ada gurata-guratan awan putih, membelakak ratusan guritan menaungi atap rumah depok, 250 meter dari pucuk JL. Akses UI. Begitu juga Induk kucing yang biasanya lalu-lalang di sekitar perkumpulan ibu-ibu pembeli sayuran hari ini melahirkan tiga benihny, entah dari jantan yang mana. Kejadian demi kejadian, atau kehidupan demi kehidupan tak ada yang pasti mengetahui, kecuali Si punya Arasyi, Lalu apakah penerawang atau peramal atau si Mama Lorent, tokoh peramal Indonesia mampu mengcover keunggulan Tuhan. Bila ini benar adanya, mungkin seisi dunia ini tak ada kaya atau miskin. Tak ada kesengsaraan, kepedihan dan kemeranaan.

Perputaran jarum jam buatan jerman di atas lemari ruang tamuku itupun terus berlalu, tanpa ada yang bisa menghambat kecuali bila batu baterainya abis. Tidak juga malaikat, makhluk polos tanpa protes dan yang ada hanya dedikasi. Prediksi tahun 2009, yang dilafalkan Mama Lorent dan sebangsanya tak dipungkiri cukup menggoyahkan keyakinan beberapa personal. Berkacalah pada runtuttan kejadian di tahun 2008 yang sebagian besar benar dikatakan oleh si peramal ini. Tapi ini bukan tanpa akibat, karena di akhir penilaian adalah musyrik intinya.

Keajaiban dan kemampuan yang diberi Tuhan kepada makhluknya memang wajib disyukuri dan bukan wadah atau peluang untuk menampikkan kepercayaan Kita pada yang di atas. Tanpa bermaksud tidak pasti, namun pasti. Dalam kitab suci Kitapun dikatakan, mengenai hal ini. Kemusyrikan. Dan seyogjanyalah hanya percaya pada yang diatas.

Ramalah sudah hadir berabad-abad yang lalu, bahkan di zaman Nabi pun, media ini sudah ada. Memberikan rambu kepada yang memintanya…

…Yah, seperti otak-ku saat ini, apa yang dirasa itulah yang ditulis. Tak perlu memikirkan apa yang akan ditulis. Berjalan saja, seperti Mingke melempar sepetik daun kemangi dan diedarkan di hulu sungai Cisadane. Daun itu hanya dan akan mengikuti dimana penopangnya mengarah, berjalan. Tiada akhir kecuali perputaran waktu yang mengarahkan pada modernitas, ataupun industrialisme. Dan tanpa sengaja, beribu-ribu hari tak berlatih, tautan huruf dengan huruf mengecohku untuk melafazkan bahasa indo, bahasa totok eropa. Mengucap ”train” saja ”Train” dan bukan ”Trein”, sebagaimana bunyinya dari asal kata ini lahir.

Mengusung bendera baru dan berperang dengan sang pendahulu, bukan hal gampang. Menyaksi apa yang dikatakan sipunya kekuasaan mendramatisir produk sebelum, juga bukan hal gampang. Terlebih lagi memilih sang pengetahu untuk ikut pula dalam konsep baru ini. Tidakkah memandang apa yang ada di lubuk ini, Huakg… pastinya tidak pernah mendengar si Ebiet G Ade bersenandung