Ini adalah aktifitas alami manusia yang dikasih Tuhan. Tapi, idealnya si ngantuk ini direalisasikan ya.. pada malam hari dung. Lalu bagaimana bagi mereka yang terbiasa ‘melek’ dimalam hari. Kamus ilmiah bilang ’insomnia’. Pastinya siang adalah musibah besar untuk si ngantuk ini. Karena berbenturan dengan jam kerja. Peluang manusia mencari rezeki. Seperti yang terjadi seharian ini.

Sudah sepuluh hari terakhir, selalu terbangun pukul tiga pagi. Sayang kesempatan emas ini tidak dipergunakan untuk bermunajat kepada sang yang widhi. Hanya terlelap untuk seterusnya berusaha tidur kembali. Manusia bodoh bukan jika tidak memanfaatkannya. Bukankan si malaikat rokib-atit yang setiap hari mencatat semua amal itu tak pernah ada waktu berhenti bekerja.

Kembali ke ngantuk. Ngantuk ini, terus saja mengusik disepanjang perjalanan menuju kantor. Hingga duduk menghadap komputer, aura ngantuk tak kunjung surut. Kenapa dokter tidak menciptakan obat melek mata, tapi justru mengeluarkan obat tidur. Apakah tidak ada keseimbangan dalam dunia ini, atau menunggu respon dari banyak orang. Kahk… kultur indonesia, selalu saja begini. Bila sudah kejadian, baru saja mengambil tindakan. Kapan kita berfikir sebelum ada yang memikirkannya. Atau kapan kita tersadarkan untuk menjadi pionir.

Mengalihkan pergi ke gramedia membeli buku ”ini Jurnalistik Indonesia”, makan Creepes bersama kedua teman. Bukan menambah semangat, hem… ngantuk itu makin merajalela.