Berdasarkan KBBI Eksodus adalah perpindahan besar-besaran pada sejumlah kelompok tertentu dari satu wilayah ke wilayah lain. Kata ini, begitu lekat dua minggu ini pasca perampingan pada divisi content. Dengan alasan bahwa terjadi pengurangan jumlah majalah yang berimbas pada tingkat pendapatan, kami kaum buruh profesional adalah korban. Apakah lebih jelasnya korban dari kapitalis atau kepentingan seseorang yang ingin menguntungkan koceknya sendiri. Kapitalis, karena sejak pertengahan 2006 perusahaan advertising ini menjual sahamnya ke perusahaan yahudi. Namun jika kepentingan tertentu, mungkin bisa dihalalkan, setiap orang pun berfikir demikian. Tapi apakah menjadi halal bin toyiban jika mengorbankan orang banyak. Kakh, sudah ta da judul zaman sekarang, saat dunia menjadi topeng akhirat. Terkadang kamipun melihat sisi religiusnya ketika bermunajat kepada Allah swt. Saat ditelaah dari awal bergabung, rasanya masuk ke lubang buaya. Awal yang buruk memang menjadi alasan Allah mengakhiri ini dengan tidak indah. Untuk dasar inilah, jiwa ini patut bersyukur dan terima kasih atas apapun yang ditimpakan. “Toh masih luas wahana diluar sana untuk mengepakkan sayap kita,” sela kawanku. Atsmosfernya adalah ketidakharmonisan suasana sekarang. Setiap orang sudah mulai tidak peduli dengan manajemen. Baru-baru ini saja, semua bebas menggelar rubrik ‘Klasika’ salah satu media besar Indonesia di ruang makan. Membagi setiap jumlah lowongan kepada kawan-kawan yang berminat. Mereka tidak peduli dengan dampak yang akan menimpa. Yah, ini wajar, ketika sebuah harga diri sudah disayat-sayat hingga jatuh tak berkeping. Semua menjadi wajar dan halal, saat ini terjadi. BEntuk ketidakpenghargaan perusahaan kepada buruhnya. Ada yang dipertahankan, digantung hingga diberhentikan dengan alasan kontrak. Membuat hubungan menjadi tidak kondusif. Tapi inilah hidup “Menarilah dan terus tertawa, meski dunia tak seindah surga,” gitu kan lirik dalam laskar pelangi yang dinyanyikan Nidji. Hidup memang perjuangan. Perjuangan yang memerlukan analisa, kehati-hatian, profesionalisme dan tetap menggunakan hati. Dari sinilah seorang individu mendapat pengakuan dari kemampuannya di masyarakat. Dan untuk ketiga teman-temanku yang mengundurkan diri sebelum kontrak habis dan salah satunya lebih baik berhenti meski dipertahankan. Kalian sangat gentle, aku salut kepada kalian. Kapitalis-kapitalis itu memang harus diberi pelajaran.