Hingga pukul 13.55 belum ada yang peka untuk kedua mataku. Keindahan, kenyamanan, apalagi ketentraman menjadi barang ‘lux’ untuk dijangkau. Bahkan diraba, hanya rutinitas harian berjudul ‘deadline’ setia menemani hingga petang menjelang. Hari, terulang kembali. Senin kembali bertemu senin, dan Jum’at kembali bertemu Jum’at.

Teringat kejadian seminggu lalu. Saat berangkat kerja. Pagi itu, seperti biasa menaiki kendaraan wajib mikrolet 129 kutemui beribu-ribu lipatan kulit, bersarang di parasnya yang lelah. padahal waktu baru saja menunjukkan 07.30 pagi. menyiratkan pria ini tidak lagi kuat menginjak rem. Mengawasi jalanan dari kebrutalan pengemudi kendaraan bermotor, yang konon merekalah sumber pemasukan kecelakaan terbesar di Indonesia.