Akhirnya romantika itu hadir kembali. Memaksa diri sendiri adalah tindakan bijak sekaligus bersih guna kembali ke masa lalu. Saat kaki profesional ini bebas bergerak dengan idealisme yang disandangnya. Tak apalah ketika idealisme ini sudah tidak lagi mengacu dan menumpang di pundak. Ada hasil dari semua itu, tugas dan tanggung jawab sebuah kebanggaan akan kerja keras. Menghasilkan sesuatu pribadi di luar pribadi yang tidak stabil. Biar dikata orang selalu tergantung, baiknya ada kebanggaan tersendiri yang telah terbentuk sekian lama dan sekian jauh aku impikan. Dari sebuah impian yang menjadi kenyataan, dari suatu obsesi menjadi berada di genggaman tangan. Menghayal memang bukan larangan seperti MUI mengharamkan seseorang merokok. Atau Islam melarang beda jenis untuk bersetubuh. Karena hari ini adalah momentum dari aku, seorang stagnation yang sudah kembali ke asal. Ada ruh yang kembali bangun, dan ada jiwa yang kembali bernafas. Dari lubuk hingga nurani. Mengenal ulang beberapa jiwa di luar sana bersama kuli dan tinta, meski terhambat sesuatu yang absolut dan dicinta serta mencintai. Hari ini adalah hari ini, hari ini adalah rasa yang menguak, mencerita lagi, bersentuhan lagi, lagi… dan lagi….