Ketika Eri Supiyato telah membaca “Menuju Indonesia Merdeka” di umur 7 tahun. Aku baru saja, menyika ingus yang jatuh dari hidung. Saat Utche Felagonna telah mempelajari habis konsep perjuangannya, aku masih saja bertengkar dengan kawan sejenis, mempertahankan jawaban ujian.

Dunia yang tidak adil, ataukah aku yang terlahir pada lingkungan yang tidak seperti mereka. Tapi sungguh ironi, jika semua yang baru terjadi empat hari terakhir boomerang atas keterlambatan di masa silam adalah Ibu-Bapak… ataupun jika dirujuk adalah yang kuasa. Tapi, mungkin saja mengapa Tuhan tidak menempatkan aku pada lingkungan yang sedemikian kompleks. Bisa jadi otakku yang kurang atau mungkin tidak mumpuni di atsmosfer yang begitu dinamis tersebut. Kisah-kisah heroik yang selama ini dikenal, diketahui pun bukan dari pemaparan kedua si pembuatku tapi dari tempat aku belajar. Di situ aja mata pelajaran SPPB (apalah itu dari singkatan apa, aku lupa), yang pasti ilmu itu mempelajari sejarah-sejarah Indonesia pra dan pasca prasejarah. Ada Megantropus, Soekarno, Hatta dan yang sangat diagung-agungkan sebagai anak petani: Soeharto. Lalu mengapa ada yang terlupa dan baru sadar diumurku yang sudah mencapai 25 tahun jalan 26 tahun.

Adalah Tan Malaka, tokoh komunis yang mati pada tahun 1949 dan dieliminir sebagai pahlawan nasional oleh Soekarno tahun 1963 melalui keppres. Sosoknya memang sama sekali tak terdengar, jangankan kedengaran, terlebih lagi terukir ga mungkin. Mungkin pernah bersinggungan saat aku hidup bersama aan’x. Tapi apalah korelasi dari basic pendidikan mba ku dengan aku. Tempo edisi 17 Agustus 2008, rupanya membuka semua mata untuk mengenal dia lebih dekat. Dari hasil pemikiran hingga riwayat hidupnya. Sungguh tragis, bapak republik mati oleh republiknya sendiri dengan cara tidak terhormat. Dalam pelarian saat bersikukuh memperjuangkan bangsanya agar terbebas dari imperialisme. Lebih tragis, wacana perempuan satu ini yang baru mengenalnya di umur 25 tahun. Lebih tragis kupikir dari anak TK manapun. Setidaknya apa yang kuyakini, bahwa Soekarno sosok pemimpin yang lebih bersih dari Soeharto-pun seiring meluntur.

Tan memang layak disebut Bapak Republik, bagaimana tidak. Ketika semua orang di zamanya hanya berfikir secara gerilya dan berkelompok untuk mengusir penjajah. Ia telah merangkum bentuk negara ini akan dibawa kemana. Sayang, minat untuk lebih mengenal dia dari hati muncul bukan dari anak bangsa ini. Tapi dari seorang inlander, Poeze. Dari dialah Tempo banyak mendapat informasi seputar Tan. Tan hebat!! ia bahkan tidak berfikir tentang perempuan, semua hidupnya untuk bangsa ini. Kupikir tak da yang bisa demikian, ketika disegala ruang dan posisi diisi status, posisi dan materi.

Mungkin ku akan berulang dan berulang kali, terus menerus dan berlanjut untuk membaca kembali semua profile yang ada di Majalah itu. Setidaknya, ku masih harus terus berucap, meski umur sudah tua, meski otak selalu penuh sesak, aku harus bersyukur bahwa aku bisa membaca untuk membaca yang belum terbaca. Tidak telat bukan…. Telat ada ketika kita sudah mati.