Kawanku pernah berkata:…, Ups, maksudku mantan kekasih selalu bernasehat. Buatlah sebuah Karya, dari karya kita bisa berbicara dengan tidak cara verbal. atau singkatnya Karya bisa berbicara. Itu pula yang harusnya dilakoni setiap intelektual yang sadar teknologi. Ketika semua fasilitas, seperti internet, telepon selular, komputer dan kemudahan memperoleh modal ‘gampang’ didapatkan. Lalu mengapa dengan kita yang masih terus mengeluh dengan keadaan yang sudah sangat maju ini. Manusia adalah gudang mengeluh, itu secara harfiah manusia diciptakan. Tapi secara harfiah juga manusia adalah khalifah di dunia ini. Yang tugasnya merawat yang telah diberikan dari sang kuasa.

Keheranan semakin berkembang ketika seorang manusia yang telah diberikan kesempatan kuliah kemudian bekerja dengan penghasilan lebih tinggi dari kakak iparnya ‘sang pengkader’ selalu digelayuti rasa tidak bersyukur. Padahal apa yang ada disekitarnya sangat dalam posisi kondusif. Fasilitas kamera 100% tersedia… keuangan pun sangat mumpuni. Hukh dasar manusia. Lalu, apa yang kemudian selalu dilakukan ketika selalu saja berdoa memohon perubahan berulang kali pula tidak bisa tersembuhkan.

Inilah arti sebuah otak manusia, yang dituntut dan harus dituntut untuk terus belajar, mempelajari, dan melakukan pembelajaran. Jika keadaan sudah mendesak, ada baiknya karya menjadi solusi terakhir dari semua kejenuhan yang setiap hari hadir. Memfoto lah untuk menyampaikan apa yang ada di otak besar itu. Menjempretlah di tiap lembaran gulungan-gulungan film tuk disetorkan pada pemilik modal, Membuat karya lah, karena dari situ kamu bisa dihargai baik secara batin dan secara finansial hasil karya itu. Jadi buat apa lagi pusing-pusing sendiri dan tidak ada hasilnya…