Melihat langit luas diantara sipuan siluet cakrawala Menentang terjang loko diantara ribuan balas berserakan. Menilik tuntas meski belum berakhir diantara stagnasi.

November kegembiraan, November kebanggan, dan November kandang singa. Keputusan beralih almamater bukanya menjadikan otak-ku tambah beres, justru menjadikanku individu yang “lemot”, “bodoh”, dan tak da lagi ruang berfikir bahkan menganalisa. Urung-urung justru jatuh dalam romantika percintaan yang tak berkesudahan. Huakh…

Everyday is war, gitu lah kalimat yang menggambarkan keadaan kami. Hampir tanpa ruang bernafas, mulut kami tidak berkesudahan untuk menuntas pribadi masing-masing. Masing-masing pula keras pada pendirian, masing-masing pula adalah cerminan dari pribadi masing-masing. Ini seperti menangani diri sendiri. Hidup dengan diri sendiri. Berduduk dengan diri sendiri.

Hingga… hari kemarin, waktu dimana mentakdirkan untuk aku kembali menggelitik masa lalu. Saat “kaki profesional” kembali menapaki puluhan sepoor di lintas Tegal-Pekalongan…

Menuai senja dan ragam biduk bercurah tangis…