Kupikir tak ada kata yang tepat untuk mengomentari keadaan si ‘dijournalist’ sekarang, yang bekerja di sebuah perusahaan pengelola media-media internal perusahaan lain. Freedom yang berarti kebebasan, acapkali digunakan oleh beberapa pemodal sebagai alat membatasi ruang gerak para karyawan-karyawan yang memang notabene mereka bekerja, dan saya pemberi upah. Tapi apakah kebebasan ini berlaku juga bagi mereka yang bermantel journalist. Yang pada dasarnya mereka adalah Journalist of in house magazine. Pemodal ‘klien’ dengan modal besar membayar pemodal kecil untuk mensosialisasikan arus gerak perusahaannya kepada pihak lain.

Sebenarnya masuk akal, jika media yang kita miliki harus mensosialisasikan setiap kebijakan dan program-program yang dimiliki. Tapi, bagaimana jika di depan mata terjadi hal yang tidak ikuti kata nurani, penipu dan sebagainya. Apakah masih bisa kita menggunakan Pasal 1 UU Kebebasan Pers, bahwa:

“Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikat buruk”,

Artinya memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. Jadi jelas bukan apa yang dimaksud dalam pasal di atas.