“Petualangan Sherina” merupakan babak kembalinya nafas perfilman Indonesia. Semarak bangku-bangku bioskop kembali tergugah dengan kehadiran senias-senias muda dalam menghasilkan ide-ide cerita. Ranah pendidikan secara tidak langsung ikut bertranformasi di bangku-bangku bioskop tersebut. Dan usaha mencerdaskan kehidupan bangsa tak perlu digembar-gemborkan lewat bangku konstitusi terlebih lagi melalui rancangan program-program melalui pengalokasian dana sekian milyar.

Sembilan tahun berjalan, banyak hal yang bisa diungkap dari film-film karya anak bangsa ini. Beberapa bisa dijadikan bahan pembelajaran namun beberapa hanyalah karya-karya kosong yang semata-mata hanya untuk mengisi kas pemilik-pemilik modal. Tak usahlah di ungkap jenis film seperti apa yang tengah berkecamuk di ranah indonesia ini. Siapapun bisa menilai!!!. Lalu apa yang kemudian kita bisa perbuat, untuk memperbaiki keadaan ini, yang sejatinya hanya Production House pemilik alat. Bilamana kita terus berfikir insan yang bisa merubah hanya yang memiliki alat.

Sebagai insan yang dianugrahi akal, tentunya kita dapat menilai mana film yang baik untuk perkembangan pola pikir kita dan pergaulan secara edukatif. Tak banyak produk-produk era orde baru pasca 80-an mengerti apa itu sosialis, terlebih lagi marxisme. Dunia mereka tak lebih dari mal dan barang-barang berbau kapitalis, yang menghujani sebagian waktu mereka hanya untuk penampilan. Hal ini ikut pula didukung dengan pemborbadiran besar-besaran apa yang ditampilkan media elektronik. Adanya sinetron yang menjual mimpi, ataupun jenis program acara yang menjual kemulukan anak muda.

Setiap weekend menjelang sore, misalnya ada program yang mengangkat upaya pengembalian cinta anak muda, dengan segala sebab dan latar belakang putusnya mereka. Entah itu memang alamiah ataukah ada skenario dibelakangnya sehingga terlihat kaku. Yah apapun itu, kembali pada sebuah pilihan. Pilihan pada pribadi masing-masing, apakah ingin menikmati karya baik atau asal-asalan. Karena pada hakikatnya Sang Maha memberi kita akal untuk memilih… dan pilihlah itu. Seperti ketika manusia tanpa kepastian ini memilih kepastiannya.