Gambar

Kiri ke bawah: lengkuang boleh nemu, klengkeng mertua, pohon zebra mertua, cabe kulkas orang tua.

Pasca operasi kista, banyak waktu yang saya punya. Tentu saja, saya bisa menikmati menit demi menit bersama suami. Berkebun, memasak hanya untuk dia seorang, mengurusinya inci demi inci setiap tubuhnya. Sedari kecil saya selalu punya opsesi, menjaga manusia paling dekat untuk tidak terluka sedikitpun. Seperti selama ini saya lakukan kepada adik satu-satu saya, Didik Saputra. Kondisi dan sikap serupa yang saya ‘dejavu’kan kepada lelaki ini.

Pada aplikasinya, ternyata sulit menghindari kulitnya dari luka-luka yang berasal dari dirinya sendiri. Bukan tidak disengaja, seperti jatuh dari motor, keserempet atau sebagainya; hal-hal yang ia tidak sadari melukai. Tapi, justru dari suamiku sendiri ancaman itu berasal. Kebiasan menggaruk-garuk rasa gatal, setiap kali digigit nyamuk.

Kadang saya berfikir untuk terjaga selama 24 jam. Hem… how come. Karena pukul 11 malam saja saya sudah mengantuk, lantaran dari pagi hingga malam disibukkan urusan rumah tangga. Yaaaa seperti cuci piring, cuci baju, menyapu dilanjutkan mengepel, memasak, menjemur dan tentu saja berkebun.

Ada pohon mangga Thailand, jambu kantor bella donna, klengkeng mertua, cabe kulkas orang tua, srikaya temen bella donna, dan macam-macam bunga dan tumbuhan hias lainnya yang ini semua tanaman, notabene tidak saya peroleh dengan cara membeli alias gratis. Kecuali pucuk merah yang saya sangat jatuh cinta sekali dan ingin memiliki, saya beli seharga Rp. 15.000 di Jl. Alternatif Cibubur.

Dan kenapa nama-nama tanaman buah yang saya sebutkan diatas bernama aneh. Semua tanaman itu saya peroleh dari ‘nyomot’ biji-biji yang saya peroleh dari aktivitas saya pra operasi kista. Seperti mangga Thailand, mangga ini saya dapat dari tetangga di depan rumah yang suaminya baru pulang dari Thailand. Sebagai oleh-oleh saya dikasih buah ini. Jangan bayangkan bentuk mangga Thailand seperti kepunyaan bangsa kita, mangga Thailand bentuknya kecil, berwarna orange dan cenderung asam. Hem… rasa yang saya lebih suka ketika memakan sebuah buah ketimbang rasa manis.

Kalau jambu kantor bella donna, yaaa saya peroleh ketika ada suguhan dari salah satu karyawan di kantor dulu saya bekerja, berupa Jambu Air. Begitu juga dengan klengkeng mertua, cabe kulkas orang tua, srikaya temen bella donna.

Ini baru tanaman-tanaman yang ada di pekarangan dalam. Belum lagi di pekarangan luar, yang masuk dalam territorial developer PT. Metland Metropolitan atau manajemen Perumahan Metropolitan Land. Untuk sebatas dihias, ditanami tanaman dan di gemburkan tanah, pihak developer masih mentolerir. Tapi kalau sudah mempersempit, membongkar hampir tidak ada itu tidak boleh dan bisa dibilang menyalahi aturan bahkan melanggar undang-undang. Hehehhehe…

Di pekarangan luar ini ada pohon Jambu Bol dari mertuanya adik ipar saya (nah loh, bingung ga?….) dan juga ada sirsak.

Ada alas an menanam sirsak, untuk menangkal penyakir kanker, tumor, jantung etc deh. Caranya: ambil 7 daun dari pucuk rebus dengan 300 ml air. Rebus hingga air menjadi 200 ml. minum setiap pagi dan sore. Begitu kata mertua saya. Belum lagi buahnya yang bisa di jus untuk menangkal atau memperkecil penyakit kista dan miom.

Ga percaya? Teman sekamar saya, saat operasi kista rajin mengkonsumsi daun sirsak dan buahnya dengan cara di jus. Usai dokter mengoperasi si Teman ini, dia berkomentar, “Ibu sering konsumsi daun sirsak dan buahnya yah?”, si Teman menjawab, “iyah dok”.

Kata si Teman, imbas dari ini, kista yang terangkat warnanya putih, seperti es beku atau salju putih.

Belum cukup disini, ketika melihat tanaman buah saya selalu ingin menanam dan memiliki di pekarangan saya. Tidak peduli berapa lamanya saya menunggu si tanaman tumbuh sebesar badan saya. Saya rela menunggu.

So, selamat tumbuh tanaman-tanamanku. Mudah-mudahan kamu kasih manfaat dan kebahagiaan di masa depan. Amin… heheheheh…

Tanah Merah Sangat Subur

Kiri ke bawah: Jambu kantor belladonna, Mangga Thailand, srikaya temen bella donna

Entah darimana ide menanam tanaman buah dari biji. Seketika saja, saat pertama kali saya dikirimi seranjang klengkeng oleh mertua-dalam rangka rumah baru, saya langsung menyisihkan biji-biji itu. Sedikit saja saya mencongkel tanah pekarangan lalu saya taruh dan timbun kembali dengan tanah.

Tidak terlalu rajin pula saya menyiram pagi dan sore. Semua berjalan saja, tanpa target. Yang pasti, saya selalu menempatkan biji, tanaman, pohon seperti seorang sahabat. Terkesan ‘rada’ ketika saya mengajak mereka berbicara. Curhat dari waktu ke waktu tentang sekitar saya.

Misalkan saja, “tumbuh ya yang subur. Tumbuh-tumbuh… tumbuh.. “. Atau, “Nanti kalau sudah besar, pasti manis deh rasanya, jangan sungkan-sungkan ngambek yah sama aku. Heheheheh”.

Terkesan “rada” sih, tapi dari pembelajaran yang saya peroleh dari TV, blog, majalah, Koran dan media online, penting untuk kita mengajak berbicara si pohon. Katanya agar ada ikatan psikologi antara kita dan tanaman. Bagaimanapun tanaman kan makhluk hidup juga.

Tanah merah, adalah jenis tanah di sekitar rumah saya. Kata mertua saya, tanah merah termasuk tanah subur dan banyak mengandung unsur hara.

Dikemudian hari, saat saya menanam sebuah biji saya lakukan secara bertumpuk.

Saya gali tanah sekitar 5 cm. Lalu saya beri pupuk kotoran sapi (yang saya beli seharga Rp 15.000 15 kilo), saya timbun sekitar 3 cm dengan tanah merah lagi, barulah biji saya taruh dan timbun penuh dengan tanah lagi.

Jarak antara pupuk kotoran sapi jangan terlalu dekat, karena akan menimbulkan panas terhadap bibit, yang bisa membuat biji malah tidak tumbuh. Sesudah itu, lakukan penyiraman teratur setiap pagi dan sore.

Satu lagi trik sukses agar tanaman kita subur, bila punya pisang yang buang kulitnya diantara kerukan-kerukan tanah sekitar tanaman itu hidup. Cara ini saya peroleh saat nonton acara